Kembali ke atas

Masalah ke empat Taklid Buta Fondasi Kesesatan dan Bahayanya bagi Akidah Umat


Ilustrasi taklid buta

Pendahuluan

Mengenal Virus Taklid yang Menggerogoti Akal

Dalam perjalanan sejarah pemikiran manusia, salah satu penyakit intelektual yang paling berbahaya adalah "taklid buta" - yaitu mengikuti suatu pendapat, tradisi, atau keyakinan tanpa mengetahui dasar, bukti, dan kebenarannya, semata-mata karena faktor warisan, adat, atau pengikut buta terhadap individu atau kelompok tertentu.

Teks yang kita bahas ini, yang berjudul "At-Taqlid Al-A'ma wa Madharruh" (Taklid Buta dan Bahayanya), mengangkat masalah keempat dalam suatu pembahasan yang lebih luas. Teks ini menegaskan bahwa agama orang-orang kafir (jahiliyah) dibangun di atas beberapa pilar, yang terbesar di antaranya adalah taklid buta. Inilah kaidah utama yang melindungi kekufuran mereka, baik dahulu maupun sekarang.

Artikel ini akan mengupas tuntas hakikat taklid buta, dalil-dalil larangannya dari Al-Qur'an dan Sunnah, bahayanya bagi kehidupan individu dan masyarakat, serta pandangan para ulama sepanjang sejarah Islam mengenai masalah ini.


1. Hakikat Taklid Buta dalam Perspektif Al-Qur'an

1.1. Definisi dan Ciri-Ciri Taklid Buta

Secara bahasa, "at-taqlid" berarti mengikuti tanpa mengetahui dasar dan buktinya. Dalam terminologi agama, taklid berarti menerima suatu pendapat tanpa mengetahui dalilnya.

Taklid memiliki dua bentuk:

1. Taklid yang tercela (at-taqlid al-madzmum): Mengikuti pendapat tanpa dalil, sekalipun bertentangan dengan kebenaran.

2. Taklid yang diperbolehkan (dalam kondisi tertentu): Seperti orang awam mengikuti mujtahid dalam masalah fiqih yang detail.

Yang dibahas dalam teks ini adalah taklid buta yang tercela, yang menjadi ciri khas kepercayaan jahiliyah.

1.2. Dalil-Dalil Al-Qur'an tentang Bahaya Taklid

Al-Qur'an banyak mengisahkan bagaimana nenek moyang dan kaum jahiliyah berpegang pada taklid buta. Beberapa ayat yang disebutkan dalam teks:

Pertama: Allah ﷻ berfirman:

وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِم مُّقْتَدُونَ

"Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: 'Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.'" 

(QS. Az-Zukhruf: 23)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ini adalah jawaban standar kaum musyrik ketika diajak kepada tauhid. Mereka menolak kebenaran hanya karena bertentangan dengan tradisi nenek moyang.

Kedua: Allah ﷻ berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَىٰ عَذَابِ السَّعِيرِ

"Dan apabila dikatakan kepada mereka: 'Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,' mereka menjawab: '(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.' (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?

(QS. Luqman: 21)

Ayat ini menunjukkan betapa taklid buta bisa membawa seseorang kepada kesesatan yang nyata, bahkan ketika setan jelas-jelas menyeru kepada azab neraka.

Ketiga: Allah ﷻ memerintahkan untuk berpikir mandiri:


قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُم بِوَاحِدَةٍ ۖ أَن تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَىٰ وَفُرَادَىٰ ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا

"Katakanlah: 'Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad).'" 

(QS. Saba': 46)

Ayat ini mengajak setiap individu untuk berpikir mandiri, tidak hanya mengikuti orang banyak atau tradisi.

Keempat: Allah ﷻ mencela sikap taklid dalam beragama:

اتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ

"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya)." 

(QS. Al-A'raf: 3)


2. Pandangan Ulama tentang Taklid Buta

2.1. Klasifikasi Taklid dalam Islam

Para ulama telah membahas taklid secara detail. Imam Asy-Syathibi dalam Al-Muwafaqat membagi taklid menjadi:

1. Taklid dalam masalah usul (pokok) agama: Haram dan tidak diterima.

2. Taklid dalam masalah furu' (cabang): Diperbolehkan bagi orang awam dengan syarat.

3. Taklid kepada orang yang diketahui keahlian dan kejujurannya: Boleh dalam batas tertentu.


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Al-Fatawa berkata: "Taklid buta dalam masalah ushuluddin (pokok agama) adalah haram menurut kesepakatan ulama. Adapun taklid dalam masalah furu' fiqih, maka ada rinciannya."

2.2. Kritik terhadap Taklid Buta dalam Sejarah

Imam Abu Hanifah berkata: "Tidak halal bagi seseorang mengambil perkataan kami selama ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya." Ini menunjukkan bahwa para imam madzhab pun melarang taklid buta kepada mereka.

Imam Asy-Syafi'i berkata: "Kaum muslimin telah sepakat bahwa siapa yang telah jelas baginya sunnah Rasulullah ﷺ, tidak halal baginya meninggalkannya karena perkataan seseorang."

Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya tentang taklid, beliau menjawab: "Taklid adalah kebodohan. Ijtihad adalah pengetahuan."


3. Bahaya Taklid Buta bagi Individu dan Masyarakat

3.1. Bahaya Akidah dan Spiritual

1. Menutup pintu hidayah: Taklid membuat seseorang menutup diri dari kebenaran yang baru diketahuinya.

2. Menyebabkan kesyirikan: Sebagaimana kaum musyrik berhujah dengan tradisi nenek moyang.

3. Menghalangi perkembangan intelektual: Membuat pikiran menjadi statis dan tidak berkembang.

3.2. Bahaya Sosial dan Keumatan

1. Fanatik buta (ta'assub): Menyebabkan perpecahan dan permusuhan.

2. Keterbelakangan umat: Menghambat kemajuan ilmu pengetahuan.

3. Lenyapnya kritik konstruktif: Menciptakan masyarakat yang tidak bisa mengkritisi kesalahan pemimpin atau tradisinya walaupun menyalahi aturan agama. 

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam I'lam Al-Muwaqqi'in mengatakan: "Taklid menghilangkan akal, mematikan hati, membunuh jiwa, dan mengubur potensi manusia."


4. Contoh Taklid Buta dalam Sejarah

4.1. Taklid Kaum Jahiliyah

Kaum musyrik Makkah menolak dakwah Rasulullah ﷺ dengan alasan klasik: "Kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami." 

(QS. Al-Baqarah: 170)

4.2. Taklid Bani Israel

Allah mencela Bani Israel dalam Al-Qur'an:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا

"Dan apabila dikatakan kepada mereka: 'Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.' Mereka menjawab: 'Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.'" 

(QS. Al-Ma'idah: 104)

4.3. Taklid dalam Sejarah Umat Islam

Sejarah mencatat beberapa fenomena taklid yang muncul di kalangan umat Islam, seperti:

1. Taklid madzhab buta pada periode kemunduran pemikiran.

2. Taklid kepada budaya lokal yang bertentangan dengan syariat.

3. Taklid kepada pemimpin meskipun jelas-jelas menyimpang.

4. Taklid buta terhadap guru atau syekh walaupun menyelisihi dalil dan sunnah. 

5. Antitesa Taklid: Ijtihad dan Ittiba'

5.1. Pengertian Ittiba' (Mengikuti dengan Ilmu)

Berbeda dengan taklid, ittiba' adalah mengikuti suatu pendapat dengan mengetahui dalil dan kebenarannya. Allah ﷻ memuji sifat ini:

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ

"Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya."

 (QS. Az-Zumar: 18)

5.2. Kewajiban Berijtihad

Islam mendorong ijtihad (berusaha mengetahui kebenaran dengan kemampuan terbaik). Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

"Jika seorang hakim berijtihad kemudian benar, maka baginya dua pahala. Jika berijtihad kemudian keliru, maka baginya satu pahala.

(HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Asy-Syaukani dalam Irsyad Al-Fuhul mengatakan: "Ijtihad adalah kewajiban dalam setiap zaman. Tidak boleh umat Islam kosong dari mujtahid."


6. Solusi Islam untuk Membebaskan Diri dari Taklid Buta

6.1. Pendidikan dan Penyadaran

1. Menuntut ilmu syar'i dengan benar.

2. Memahami dalil sebelum menerima suatu pendapat.

3. Mengembangkan sikap kritis yang konstruktif.

6.2. Prinsip-Prinsip dalam Menerima Pendapat

1. Kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah sebagai sumber utama.

2. Mengutamakan dalil yang shahih di atas pendapat siapa pun.

3. Memahami konteks dan hikmah syariat.


Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitab At-Tauhid menekankan: "Wajib bagi setiap muslim untuk mengetahui dalil dalam masalah akidah, tidak boleh taklid dalam masalah tauhid dan syirik."


7. Relevansi dengan Kondisi Kontemporer

7.1. Fenomena Taklid Modern

Di era modern, taklid buta muncul dalam bentuk baru:

1. Taklid kepada pemikiran Barat tanpa filter syariat.

2. Taklid kepada tradisi lokal yang bertentangan dengan Islam.

3. Taklid kepada selebriti atau influencer dalam masalah agama.

4. Taklid kepada organisasi atau kelompok tanpa verifikasi dalil.

7.2. Tanggung Jawab Ulama dan Da'i

Ulama dan da'i memiliki tanggung jawab untuk:

1. Mengajarkan dalil, bukan hanya pendapat.

2. Mendorong umat untuk berpikir mandiri.

3. Meluruskan taklid buta dengan hikmah dan nasihat yang baik.


Imam Hasan Al-Banna dalam Risalah At-Ta'alim mengatakan: "Kita harus membebaskan akal dari belenggu taklid buta, dan memahami agama sebagaimana dipahami salafush shalih."


8. Kesimpulan: Membangun Generasi yang Berpikir Merdeka

Dari pembahasan yang panjang ini, kita dapat menyimpulkan bahwa:

1. Taklid buta adalah fondasi kesesatan kaum jahiliyah sepanjang sejarah.

2. Al-Qur'an sangat keras mencela taklid buta dan mendorong berpikir mandiri.

3. Para ulama sepakat mengharamkan taklid buta dalam masalah ushuluddin.

4. Bahaya taklid sangat besar bagi individu dan masyarakat.

5. Solusi Islam adalah melalui pendidikan, ittiba' yang ilmiah, dan ijtihad yang bertanggung jawab.

Marilah kita renungkan firman Allah:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur'an ataukah hati mereka terkunci?

(QS. Muhammad: 24)


Semoga Allah membebaskan kita dari belenggu taklid buta, membuka hati kita untuk menerima kebenaran dari mana pun datangnya, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang berpikir berdasarkan dalil dalam beragama bukan berdasarkan hawa nafsu dan fanatisme buta.

Ikuti Juga Kajian Lainnya Di

>>>>Yt.Forsuri<<<<

Referensi :


1. Tafsir Ibnu Katsir - Imam Ibnu Katsir

2. Majmu' Al-Fatawa - Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

3. Al-Muwafaqat - Imam Asy-Syathibi

4. I'lam Al-Muwaqqi'in - Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah

5. Irsyad Al-Fuhul - Imam Asy-Syaukani

6. Kitab At-Tauhid - Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

7. Risalah At-Ta'alim - Imam Hasan Al-Banna

8. Al-I'tisham - Imam Asy-Syathibi


Wallahu a'lam bish-shawab.

Komentar

Populer

Kisah Nabi Muhammad ﷺ Menggembala Kambing dan Perjalanan ke Syam: Tanda-Tanda Kenabian Pertama

Keajaiban Sholat: Memahami Kedudukan Sholat, Dan Mukjizat Sujud Bagi Kesehatan Psikologis Dan Fisik Dalam Perspektif Islam Dan Sains

Muqaddimah Kitab Masāʾil al-Jāhiliyyah