Kembali ke atas

Maslah Kedua, Perpecahan dalam Agama: Warisan Jahiliyah dan Solusi Islam yang Menyatukan

gambar ilustrasi yang menggambarkan perpecahan dalam agama di masa jahiliyah.

Kitab masail al jahiliyah bab ke dua

Daftar isi

Perpecahan dalam Agama: Warisan Jahiliyah dan Solusi Islam yang Menyatukan

Pengantar: Mengenal Wajah Asli Jahiliyah Modern

Dalam diskursus keislaman kontemporer, kita sering mendengar seruan-seruan untuk "kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah" yang disertai klaim kebenaran sepihak oleh berbagai kelompok. Ironisnya, seruan yang seharusnya menyatukan justru sering menjadi pemicu perpecahan baru. Fenomena ini bukanlah hal yang asing dalam sejarah agama samawi. Teks yang kita bahas kali ini mengangkat "Permasalahan Kedua" yang sangat fundamental: bagaimana kaum jahiliyah terpecah-belah dalam agama dan penyembahan mereka, dan bagaimana Islam datang sebagai solusi pemersatu.

Artikel ini akan menguraikan hakikat perpecahan agama, dalil-dalil larangannya dari Al-Qur'an dan Sunnah, serta pendapat para ulama terkemuka tentang bahaya perpecahan dan keutamaan persatuan.

Hakikat Perpecahan Jahiliyah: Fanatisme Buta dan Kebanggaan Kelompok

1. Kondisi Sosial-Keagamaan Pra-Islam

Masyarakat Arab pra-Islam (Jahiliyah) hidup dalam sistem kesukuan (qabilah) yang kuat. Setiap suku memiliki tuhan, ritual, dan tradisi penyembahan sendiri-sendiri. Hub dengan Lata, 'Uzza, Manat, dan berhala lainnya menjadi simbol identitas kesukuan. 

Allah ﷻ menggambarkan mentalitas ini dalam firman-Nya:

كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

"Setiap golongan merasa bangga (dan senang) dengan apa yang ada pada sisi mereka (ajaran dan keyakinan mereka)."

(QS. Al-Mu'minun: 53)

Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan kondisi manusia yang terpecah dalam agama mereka, dimana setiap kelompok merasa bangga dengan pendapat dan keyakinannya sendiri, meskipun itu sesat.

2. Analisis Sosiologis Perpecahan Keagamaan

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitab At-Tauhid menganalisis bahwa akar perpecahan dalam agama adalah syirik dan pengingkaran terhadap tauhid. Ketika manusia meninggalkan penyembahan kepada Allah Yang Esa, mereka akan terpecah menjadi banyak sekte dengan tuhan-tuhan yang berbeda.

Imam Asy-Syathibi dalam Al-I'tisham menambahkan bahwa perpecahan dalam agama seringkali bermula dari fanatisme buta (ta'assub) terhadap pendapat seseorang atau kelompok, meskipun bertentangan dengan dalil yang jelas.

2. Islam Datang sebagai Agama Pemersatu

1. Kesatuan Risalah Samawi

Islam bukanlah agama baru yang terpisah dari agama para nabi sebelumnya. Allah ﷻ menegaskan:

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

"Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya."

(QS. Asy-Syura: 13)

Al-Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kesatuan sumber dan tujuan agama samawi. Semua nabi datang dengan prinsip dasar yang sama: tauhid dan larangan berpecah belah.

2. Keniscayaan Perbedaan dalam Furu'iyyat

Meskipun Islam menyerukan persatuan, para ulama memahami bahwa perbedaan pendapat dalam masalah furu' (cabang) adalah keniscayaan ilmiah. Imam Syafi'i berkata: "Pendapatku benar, tetapi mungkin mengandung kesalahan. Pendapat orang lain salah, tetapi mungkin mengandung kebenaran."

Namun, perbedaan yang dimaksud bukanlah perpecahan yang dilarang. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Al-Fatawa membedakan antara:

1. Ikhtilaf tanawwu' (perbedaan variasi): seperti perbedaan qira'at, cara shalat, dll.

2. Ikhtilaf tadhad (perbedaan kontradiktif): yang bertentangan dengan nash yang jelas.

   Yang dilarang adalah perbedaan jenis kedua yang menyebabkan permusuhan dan perpecahan.

3. Ancaman Keras bagi Pemecah Belah Agama

1. Peringatan Langsung dari Allah

Allah ﷻ memberikan peringatan yang sangat keras:


إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ

"Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolong-golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu (Muhammad) terhadap mereka."

(QS. Al-An'am: 159)


Al-Imam Al-Baghawi dalam Ma'alim At-Tanzil menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang memecah belah agama mereka, dan juga menjadi peringatan bagi umat Islam agar tidak mengikuti jejak mereka.

2. Hadis-hadis Peringatan Atas Perpecahan

Rasulullah ﷺ telah memperingatkan tentang bahaya perpecahan dalam banyak hadis, antara lain:

تَفَرَّقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً

"Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan."

(HR. Abu Daud, Tirmidzi; hasan)

Imam At-Tirmidzi dalam Syarh Al-'Aqidah At-Tahawiyyah menjelaskan bahwa hadis ini bukanlah pujian terhadap perpecahan, melainkan sebagai peringatan dan kabar ghaib dari Nabi ﷺ tentang apa yang akan terjadi.

4. Larangan Menyerupai Umat Terdahulu yang Berpecah

1. Perintah untuk Belajar dari Sejarah

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ

"Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas."

(QS. Ali 'Imran: 105)


Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam Jami' Al-Bayan menyebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan sebagian sahabat yang hampir berselisih dalam suatu masalah, lalu Allah memperingatkan mereka agar tidak seperti umat-umat terdahulu yang binasa karena perpecahan.

2. Kisah Umat Terdahulu sebagai Ibrah

Dalam banyak ayat, Allah menceritakan kisah umat-umat terdahulu sebagai pelajaran. Fir'aun dan kaumnya, kaum 'Ad dan Tsamud, serta kaum Nabi Nuh dan Luth, semuanya binasa setelah mereka berpecah belah dan meninggalkan ajaran nabi mereka.

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam I'lam Al-Muwaqqi'in mengatakan: "Perpecahan adalah penyebab utama kehancuran umat. Ketika mereka bersatu di atas kebenaran, mereka menjadi kuat. Ketika berpecah, mereka menjadi lemah."

5. Solusi Islam: Berpegang Teguh pada Tali Allah

1. Makna "Hablullah" (Tali Allah)

Solusi yang ditawarkan Islam sangat jelas:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai."

(QS. Ali 'Imran: 103)

Para mufassirin berbeda pendapat tentang makna "tali Allah":

1. Al-Qur'an (pendapat Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas'ud)

2. Agama Islam (pendapat Qatadah)

3. Jama'ah dan persatuan (pendapat Adh-Dhahhak)

Imam Al-Qurthubi menyimpulkan bahwa semua makna ini saling melengkapi: Al-Qur'an adalah tali Allah, agama Islam adalah implementasinya, dan persatuan adalah konsekuensinya.

2. Implementasi dalam Kehidupan Berjamaah

Rasulullah ﷺ memberikan pedoman praktis untuk menjaga persatuan:

عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ

"Wajib bagi kalian untuk berjamaah, dan hati-hatilah dari perpecahan. Sesungguhnya syaitan bersama orang yang sendirian, dan dia lebih jauh dari dua orang."

(HR. Tirmidzi, hasan)

Imam An-Nawawi dalam Riyadhush-Shalihin menjelaskan bahwa "al-jama'ah" dalam konteks ini bermakna:

1. Jama'ah kaum muslimin yang bersatu di bawah kepemimpinan yang sah

2. Kebenaran dan jalan yang lurus, meskipun pengikutnya sedikit

6. Relevansi dengan Kondisi Kontemporer

1. Fenomena Perpecahan Modern

Di era modern, umat Islam menghadapi tantangan perpecahan dalam bentuk baru:

1. Perpecahan politik atas nama kepentingan kelompok

2. Perpecahan pemikiran antara berbagai aliran modern

3. Perpecahan metodologis dalam memahami nash


Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu' Fatawa sering mengingatkan bahwa perpecahan yang terjadi di kalangan umat Islam saat ini lebih berbahaya daripada musuh dari luar, karena merusak dari dalam.

2. Langkah-Langkah Menuju Persatuan

Berdasarkan kajian para ulama, beberapa langkah praktis menuju persatuan adalah:

1. Mendahulukan persamaan daripada perbedaan

2. Berlapang dada dalam masalah khilafiyah furu'iyyah

3. Menjauhi sikap saling mengkafirkan tanpa dasar yang jelas

4. Bermuamalah dengan baik meski berbeda pendapat

Imam Hasan Al-Banna dalam Risalah At-Ta'alim menekankan pentingnya "bekerja sama dalam hal yang disepakati, dan saling memaafkan dalam hal yang diperselisihkan."

7. Kesimpulan: Persatuan sebagai Kewajiban Agama

Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa:

1. Perpecahan dalam agama adalah karakteristik jahiliyah yang dibenci Allah.

2. Islam datang sebagai agama pemersatu seluruh umat manusia.

3. Ancaman bagi pemecah belah agama sangat keras dalam Al-Qur'an dan Sunnah.

4. Larangan menyerupai umat terdahulu yang binasa karena perpecahan.

5. Solusi Islam adalah berpegang teguh pada tali Allah secara kolektif.

6. Persatuan umat Islam merupakan kewajiban agama, bukan sekadar pilihan strategis.


Sebagai penutup, marilah kita renungkan firman Allah:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

"Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang."

(QS. Al-Anfal: 46)

Semoga Allah menyatukan hati umat Islam di atas kebenaran, menjauhkan kita dari perpecahan, dan menjadikan kita termasuk golongan yang berpegang teguh pada tali-Nya hingga akhir hayat.



Referensi Utama:


1. Tafsir Ibnu Katsir - Imam Ibnu Katsir

2. Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an - Imam Al-Qurthubi

3. Ma'alim At-Tanzil - Imam Al-Baghawi

4. Majmu' Al-Fatawa - Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

5. Al-I'tisham - Imam Asy-Syathibi

6. Riyadhush-Shalihin - Imam An-Nawawi

7. Kitab At-Tauhid - Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

8. I'lam Al-Muwaqqi'in - Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah


Wallahu a'lam bish-shawab.

Komentar

Populer

Kisah Nabi Muhammad ﷺ Menggembala Kambing dan Perjalanan ke Syam: Tanda-Tanda Kenabian Pertama

Keajaiban Sholat: Memahami Kedudukan Sholat, Dan Mukjizat Sujud Bagi Kesehatan Psikologis Dan Fisik Dalam Perspektif Islam Dan Sains

Muqaddimah Kitab Masāʾil al-Jāhiliyyah